Mari Makan Ikan !

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki pengaruh bagi melimpahnya sumber daya laut, khususnya Ikan. Namun, sangat disayangkan ternyata sumber daya laut yang melimpah itu tidak dinikmati oleh warganya sendiri. Hal ini terlihat dari jumlah konsumsi ikan pada masyarakat Indonesia yang ternyata tidak cukup tinggi.

Selengkapnya

Anda berada disini : Beranda - Kesehatan

Saat Bekerja, Wanita Lebih Mudah Stres Dibandingkan Pria

Kesehatan | 0 Komentar

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh American Psychological Association, menyebutkan bahwa sepertiga pekerja mengalami stres kronis berkaitan dengan pekerjaan mereka. Dari studi yang dilakukan pada 1.501 responden karyawan tetap tersebut ditemukan pula bahwa wanita lebih rentan mengalami stres dibandingkan pria. Mengapa ini bisa terjadi?

 

Hal ini terjadi karena peluang wanita dalam meningkatkan pencapaian karier mereka dinilai cukup kecil. Kebanyakan wanita merasa kurang diapresiasi oleh perusahaan. Kondisi kantor yang tidak kondusif juga membuat wanita kerap mengalami ketegangan di tempat kerja, sedangkan pria tidak benar-benar merasa mengalami masalah ini dalam skala besar. Selain itu banyak karyawan wanita yang memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terkait adanya peluang posisinya akan digantikan orang lain selepas cuti hamil dan melahirkan. Adapun penyebab stres yang utama pada wanita berasal dari perbedaan penghasilan yang signifikan lebih rendah jika dibandingkan dengan rekan kerja pria.

 

Dampak stres

Pada awalnya banyak orang yang berpikir bahwa stres atau tekanan hanya akan mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Padahal sebenarnya stres dapat mempengaruhi kesehatan dan kondisi seseorang secara menyeluruh, baik secara fisik maupun mental. Kondisi stres atau tertekan tersebut juga kerap menimbulkan kemarahan dan ketidakberdayaan pada orang yang mengalaminya. Selain itu juga memicu perilaku yang akan membahayakan organ-organ vital seperti, otak, jantung, pembuluh darah, dan ginjal. Hal itu berkaitan dengan perubahan perilaku dan pola hidup seseorang saat mengalami stress dalam rangka melakukan pelarian yang cenderung tidak sehat.

 

Beberapa dampak buruk yang akan terjadi jika stress yang kita hadapi tidak dapat teratasi dan dikelola dengan tepat diantaranya adalah:

1. Perubahan perilaku dan pola hidup menjadi tidak sehat demi mencapai pelarian dari stress tersebut. Makan berlebihan atau hilangnya napsu makan, insomnia, dan ketidakstabilan mengelola emosi yang berpengaruh pada penurunan tingkat keharmonisan hubungan dengan orang-orang terdekat

 

2. Penurunan motivasi dan semangat kerja, sehingga dapat menurunkan tingkat produktivitas dan kinerja karyawan terhadap perusahaan. Menurunkan daya saing pribadi terhadap rekan kerja lain yang lebih mampu mengelola stres kerja.

 

3. Kondisi dan suasana kerja yang berubah menjadi tidak kondusif. Kondisi yang tidak nyaman ini akan memicu karyawan dalam mencari peluang perusahaan lain yang dirasa lebih memenuhi kriteria kerja. Meningkatkan turn over karyawan menjadi lebih cepat dan hal ini akan berpengaruh pada meningkatnya beban biaya HRD untuk rekruitmen dan pelatihan.

 

4. Selain itu diketahui stress dapat menurunkan fungsi kognitif pada otak dan mempercepat usia otak menjadi lebih tua. Studi yang dilakukan oleh Tim dari University of Winsconsin School of Medicine and Public Health pada 1.320 orang yang mengalami stress selama masa hidup baik yang berkaitan dengan pekerjaan maupun tidak. Mereka menjalani tes neuropsikologis untuk mengukur kemampuan berpikir dan ingatan mereka. Tes tersebut meneliti beberapa area, antara lain ingatan langsung, pembelajaran verbal dan ingatan, pembelajaran visual dan ingatan, serta kemampuan menceritakan kembali. Hasilnya menunjukkan bahwa stres berat berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih buruk di kemudian hari. Studi ini dipresentasikan di Alzheimer's Association International Conference di London.

Peneliti mengatakan, pada orang Afrika-Amerika, setiap pengalaman stres setara dengan kira-kira empat tahun penuaan kognitif. Dengan kata lain, penuaan di otak terjadi lebih cepat dari seharusnya. Dr. Doug Brown, peneliti bidang Alzheimer mengatakan, kecemasan dan depresi juga dianggap berkontribusi terhadap risiko demensia. Stres dalam jangka panjang memicu efek inflamasi atau peradangan pada sel-sel tubuh. Kondisi ini dianggap mempercepat timbulnya demensia.

 

Berbagai tingkatan stress yang dihadapi seseorang ada baiknya harus segera dikendalikan. Hal ini bertujuan untuk mencegah kondisi dampat terburuk yang dihasilkan dari pengalaman stres tersebut dan kemudian berkaitan dengan kondisi kesehatan mental.

Sumber : Kompas

Sumber foto : Freepik

Komentar :


Media Sosial

Ikuti kami

Tentang Kami

Komentar Terbaru

Menarik sekali,boleh gabung gak?...
Nama: Oktaviyana di Wajah Bunda Indonesia: Senang Cari Ilmu

Hallo aku Tiwi, penyuluh online dari Arisan Mapan ini. aku...
Nama: Tiwi Mapan di Program Arisan Mapan

Terima kasih untuk tulisannya. Salam sayang untuk semua: Ibu Indonesia. reda...
Nama: Reda Gaudiamo di AriReda Tur Perdana di Usia Senja

Kontak Kami