Muslim Fashion Festival (MUFFEST) Indonesia 2017: Tampilkan Dinamika Fashion Muslim Indonesia

Muslim Fashion Festival (MUFFEST) Indonesia kembali diselenggarakan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) pada 6-9 April 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Selengkapnya

Anda berada disini : Beranda - Galeri

Pemerintah Kota Depok Kampanyekan Gerakan Masyarakat Gemar Membaca

Galeri | 0 Komentar

 

Kantor Arsip dan Perpustakaan Pemerintah Kota Depok menyelenggarakan kegiatan bedah buku “Ailurofil” dan kiat menulis cerita fiksi, pada Rabu (16/11) di Aula Perpustakaan Umum Kota Depok.  Tampil sebagai pembicara Triani Retno, seorang penulis novel teenlit dan moderator Baron Noorwendo, seorang penggiat literasi Kota Depok. 

Menurut Kepala Seksi Perpustakaan Pemerintah Kota Depok, Ima Halimah, acara bedah buku ini merupakan rangkaian kegiatan pemasyarakatan gemar membaca. “Salah satu tugas kami adalah bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat. Nah, kegiatan bedah buku ini merupakan bagian dari program meningkatkan minat baca masyarakat. Tentunya untuk meningkatkan minat baca kami juga perlu dukungan masyarakat, pihak sekolah dan keluarga.” 

Mengekplorasi Minat 

Pada acara tersebut, penulis buku “Ailurofil” Triani Retno menceritakan sosok Nasya, remaja usia 17 tahun yang sangat menyukai kucing. “Sejak kecil, Nasya memiliki cita-cita yang selalu berubah. Ia pernah ingin jadi detektif, guru, pilot, reporter, paranormal, koki dan lain-lain. Tapi, satu-satunya yang tak berubah adalah kesukaannya pada kucing.”

Nah, saat di bangku SMA, Nasya bingung kelak dimana ia akan berkuliah? Soalnya, tak ada kampus ilmu kucing dan tak ada fakultas yang mengakomodasi kecintaan seseorang terhadap kucing. “Mendaftar ke Fakultas Kedokteran Hewan pun tak mungkin karena Nasya masuk kelas IPS.” 

Sosok Nasya pada buku “Ailurofil” ini menggambarkan fenomena banyaknya remaja yang bingung menentukan arah masa depannya. Mau melanjutkan kuliah apa dan mau menjadi apa kelak? Nasya adalah sosok remaja yang berproses dalam menentukan pilihan hidupnya. 

Beruntung, salah seorang teman Nasya, Alvin memberi pesan moral bahwa banyak orang yang berhasil bukan karena dimana kuliahnya, tapi menekuni minat atau passion-nya. Alvin juga mengatakan, untuk mencapai tujuan yang tinggi, ibarat naik tangga harus melalui anak tangga pertama. “Ia mengajarkan tentang filosofi anak tangga bahwa bila ingin mencapai sesuatu harus dimulai dari awal dan dilakukan bertahap, tidak mungkin dari lantai bawah langsung naik ke lantai lima.” 

Nasya pun terus mengeksplorasi minatnya yang besar terhadap kucing. Selanjutnya ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat sama dan membentuk komunitas pencinta kucing. Pada akhirnya, Nasya menantapkan diri bercita-cita memiliki Cat Shop, Rumah Sakit Kucing, Panti Asuhan Kucing, dan semua hal lain tentang kucing. 

Trik Membuat Cerita Fiksi 

Pada acara tersebut, Retno juga membagi kiat menulis cerita fiksi pada para peserta. Menurut Retno, karya fiksi tak semata-mata khayalan, rekaan atau imajinasi, tapi juga bisa mengambil cerita dari kenyataan.

Beberapa poin penting dalam menulis cerita fisik di antaranya bagaimana mengembangkan ide, konflik dalam cerita, dan membuat sinopsis.” Ide besar ditulis menjadi lebih detil, lalu merancang karakter tokoh bagiamana gambaran fisik, hobi dan lainnya. Tak kalah penting, membuat sinopsis umum di awal dan akhir. Selanjutnya, membuat sinopsis per bab. Lalu, masukkan konflik yang ingin ditonjolkan dalam setiap bab,” jelas Retno.

Salah seorang peserta mengajukan pertanyaan, apakah judul harus ditentukan di awal atau di akhir setelah cerita rampung? Menurut Retno, judul bisa saja ditentukan di awal atau justru terakhirnya. “Bisa juga membuat judul sementara. Terkadang, penerbit mengubah judul yang kita tetapkan karena pertimbangan nilai jual. Jadi, menentukan judul sifatnya kondisional.” 

Pantang Menyerah 

Retno menegaskan, dalam menulis akan banyak sekali tantangannya. Perlu manajemen waktu yang baik antara mengerjakan tugas, menghadapi besok ujian, dan sebagainya. Yang pasti, luangkan waktu meski hanya beberapa menit untuk menulis. Jangan sampai merasa malas dan naskah dibiarkan terlalu lama. Sayang sekali kalau sudah menulis berlembar-lembar tapi tak rampung malah jadi mubazir. 

Tantangan lainnya bila mood sedang jelek, lelah, capek, buntu, kurang semangat, konsentrasi turun. “Bila merasa mentok tak bisa berpikir, sebaiknya jangan dipaksa menulis. Soalnya, cerita yang dibuat malah bisa garing dan tak seru. Sebaiknya tutup laptop dan kerjakan hal lain yang menyenangkan, misalnya mendengarkan musik, jalan-jalan dan aktivitas lain di luar menulis. Kalau sudah merasa fresh, biasanya ide akan mengalir lagi.”     

Selain itu, tantangan menulis buku remaja adalah membahas tema yang dekat dengan keseharian remaja dan mengemasnya dengan bahasa yang mengena. “Tapi bukan bahasa lebay alay. Gaya bahasa yang kadang keluar dari pakem tapi tetap bertujuan menumbuhkan kebiasaan berbahasa yang baik.” 

Untuk memilih penerbit, Retno punya kiat tersendiri. “Coba ke toko buku, lihat tipe-tipe penerbit karena ada yang suka menerbitkan cerita remaja romansa ada juga yang suka cerita remaja berbau korea. Yang pasti, agar naskah kita diterima, kenali jenis-jenis buku yang sering diterbitkan oleh penerbit.”

Terus Latihan Menulis

Menulis itu bakat atau bisa dilatih? Menurut Retno, bakat itu perlu tapi kala tanpa latihan ya percuma. Bakat hanya 1 persen, sedangkan 99 persen adalah usaha/latihan. “Bakat perlu tapi yang paling penting adalah latihan. Nah, agar tulisan berbobot, kita perlu banyak membaca buku dan banyak menulis. Keterampilan menulis sangat berguna di bidang pekerjaan apapun.”

Yang jelas, jangan pernah menyerah. ”Saya menulis sejak kelas 4 SD dan sering ditolak penerbit. Tapi saya tak pantang menyerah. Terus berusaha hingga sekarang. Tak perlu kecewa, terus berhati tembok. Makin ditolak, makin tertantang. Kalau cepat menyerah ketika ditolak penerbit, kita takkan jadi penulis.” 

Retno mengatakan, ada dua risiko mengirimkan tulisan ke penerbit yaitu ditolak atau diterima. “Kalau tak pernah mengirim ke penerbit, mana mungkin diterbitkan. Jangan malu ditolak penerbit. Editor tak ada waktu untuk menertawakan tulisan kita. Kita bukan pertama dan satu-satunya yang ditolak. Jadi kalau ditolak, semangat terus,” papar Retno memotivasi para peserta. 

Tumbuhkan Minat Baca

Pada kesempatan yang sama, Baron Noorwendo, seorang penggiat literasi Kota Depok mengatakan, kita perlu memilih dan memilah bacaan yang sesuai dengan usia dan pandai memilih bacaan yang bermanfaat. 

Menurut Baron, daya ingat seseorang hanya 10-20 persen. Dengan membaca, daya ingat akan naik menjadi 40 persen. Kemudian, akan lebih meningkatkan lagi mencapai 60-70 persen bila menulis. “Dengan menyampaikan kepada orang lain melalui tulisan, akan lebih bertambah lagi kemampuan mengingat. Jadi coba kita mengeksplorasi potensi, perkuat dengan membaca dan menulis.

“Sebuah survei menyebutkan, minat baca orang Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Artinya, minat baca kita lemah. Tapi kita tak perlu meratapi hasil riset itu, harus optimis semoga kelak minat baca orang Indonesia berada diposisi tinggi. Mari menumbuhkan minat baca mulai dari diri sendiri dan keluarga kita.” (hil)
Foto: Nurul/Diskominfo 

Komentar :


Media Sosial

Ikuti kami

Tentang Kami

Komentar Terbaru

Menarik sekali,boleh gabung gak?...
Nama: Oktaviyana di Wajah Bunda Indonesia: Senang Cari Ilmu

Hallo aku Tiwi, penyuluh online dari Arisan Mapan ini. aku...
Nama: Tiwi Mapan di Program Arisan Mapan

Terima kasih untuk tulisannya. Salam sayang untuk semua: Ibu Indonesia. reda...
Nama: Reda Gaudiamo di AriReda Tur Perdana di Usia Senja

Kontak Kami