Tak Lama Lagi, Tidak Ada Perairan Tanpa Sampah Plastik

Sampah plastik terbawa ke laut dan pantai oleh parit kota yang bermuara ke sungai. Kemudian sungai-sungai membawa sampah dan segala zat pencemar ke muara dan laut. Wah bisa dibayangkan ya jika masalah ini tidak segera ditanggulangi akan berakibat pada menumpuknya sampah, baik di lautan maupun di perairan daratan.

Selengkapnya

Anda berada disini : Beranda - Lingkungan

Mari Lindungi dan Lestarikan Alam

Lingkungan | 0 Komentar

Upaya perlindungan dan pelestarian alam di Indonesia telah banyak menunjukan prestasi gemilang. Dari catatan kurun waktu 1993-2004 ada penambahan 100 fauna baru (Noerdjito dan Maryanto 2004).

Sedangkan, untuk rentang tahun 2005-2014 ada lebih dari 269 jenis baru hayati (Wijaya, dkk., 2011, Sutrisno, dkk., 2015) yang ditemukan hanya dari peneliti LIPI.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc, satwa dari jenis burung, mamalia, amphibi dan reptilia, serta ikan mengalami peningkatan jumlah jenis hampir mendekati dua kali lipat. Untuk jenis kupu-kupu dan tumbuhan bahkan 5 meningkat pesat dengan rentang antara 10 - 20 kali lipat.

Data tersebut berdasarkan informasi kekayaan keanekaragaman hayati yang baru terkumpul sekitar 30% untuk fauna dan 50% untuk flora yang berada di alam Indonesia.

Indonesia telah menempatkan konservasi sebagai salah satu pilar pendukung pembangunan nasional. Hutan konservasi di Indonesia menempati porsi 16% dari total luasan hutan Indonesia yang mencapai 130,68 juta Ha yaitu seluas 20,91 juta ha.

Luasan ini harus dikelola dengan pendekatan multidimensi, komprehensif, sehingga perlindungan dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi Indonesia. Kawasan konservasi harus menjadi bagian dari sumber kesejahteraan masyarakat.

Harus kita sadari bahwa ancaman terhadap keanekaragaman hayati seperti terjadinya kehilangan jenis dan kerusakan habitat diperburuk dengan terjadinya perubahan iklim.
Di sisi lain, melestarikan atau melindungi keanekaragaman hayati dalam kerangka ekosistem, juga bermakna mempertahankan karbon yang ada pada kayu ataupun lahan yang terdapat di kawasan tersebut.

Ironinya, diperkirakan bahwa lebih dari 1 Gigaton karbon dilepaskan per tahun terjadi akibat alih-guna lahan akibat 6 deforestasi di kawasan hutan tropis. Deforestasi ini mewakili sekitar 20 persen emisi karbon dunia saat ini.

Upaya lanjut yang berkaitan dan saling mendukung berkenaan kelestarian hutan, ialah penerapan kebijakan Sistem Verfikasi Legalitas Kayu (SVLK).

Penerapan SVLK menjamin pemanfaatan hasil hutan kayu yang bertanggung jawab dan legal, sehingga laju deforestrasi dapat dikurangi.

Demikian pula upaya kita untuk mengatasi akibat perubahan iklim melalui kawasan taman nasional, untuk reduksi deforestasi. Dengan menggencarkan wisata alam ke taman nasional maka nilai intangible dari hutan berupa keindahan alam akan memiliki arti ekonomi bagi masyarakat.

Pemanfaatan hutan ini memberi nilai ekonomi yang berlipat daripada nilai ekonomi dari eksploitasi hasil hutan kayu. 7 Konsepsi SVLK dan taman nasional ini seiring dengan tesis dari Joseph Stiglitz dalam tulisannya From Resource Curse to Blessing yang menyatakan bahwa untuk keluar dari kutukan sumber daya, negara harus memperluas akses sumber daya alam kepada rakyatnya dan bertransformasi dari sumber daya alam sebagai keunggulan komparatif menjadi kompetitif (adanya peningkatan nilai tambah).
(hil)
Foto: scout.org

 

Komentar :


Media Sosial

Ikuti kami

Tentang Kami

Komentar Terbaru

Menarik sekali,boleh gabung gak?...
Nama: Oktaviyana di Wajah Bunda Indonesia: Senang Cari Ilmu

Hallo aku Tiwi, penyuluh online dari Arisan Mapan ini. aku...
Nama: Tiwi Mapan di Program Arisan Mapan

Terima kasih untuk tulisannya. Salam sayang untuk semua: Ibu Indonesia. reda...
Nama: Reda Gaudiamo di AriReda Tur Perdana di Usia Senja

Kontak Kami